Mohon tunggu...
Adi MC
Adi MC Mohon Tunggu... Administrasi - Lectio contra est

''Kemanusiaan di atas segalanya"

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Insinuasi terhadap Gerakan Demonstrasi Mahasiswa di Nusa Tenggara Timur

3 Oktober 2019   06:22 Diperbarui: 8 Januari 2022   03:00 270
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

 

Memulai tulisan ini saya  mengutip salah satu pernyataan dari mantan aktivis yang juga seorang penulis yang begitu produktif di NTT,    om Gege. beliau mengatakan "Demonstrasi akan memenangkan tuntutannya jika gerakannya menyebar dan meluas sampai ke semua sektor"

Melihat situasi politik kita beberapa hari belakangan ini memang cukup  menjadi  perhatian publik, demonstrasi mahasiswa muncul  seperti gelombang salju yang besar, tentu saja penyebabnya adalah berbagai macam revisi Undang-undang yang yang dirancang oleh DPR dinilai tidak  berpihak kepada rakyat miskin.

Puncaknya pada pengesahan undang-undang KPK, bayangkan saja Kurang lebih  dua minggu , mereka merampungkan revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan tindak Pidana Korupsi (KPK) yang bagi banyak orang berarti melemahkan KPK. (Baca selengkapnya di artikel "Betapa Bobroknya Peninggalan DPR RI Periode 2014-2019", https://tirto.id/ei1w) 

Gelombang aksi ini semakin besar dan membesar  bahkan merambat sampai pada pelajar dan masyarakat sipil, aksi demonstrasi ini seperti efek domino yang menjalar sampai ke pelosok kabupaten dan kota-kota kecil tidak terkecauli di Nusa Tenggara Timur.

Merespon gerakan yang terjadi di Indonesia mahasiswa NTT juga mencoba berpartisipasi dengan mendesain sebuah aksi damai, sehari sebelum aksi damai oleh mahasiswa di NTT khususnya kota Kupang, sudah  ada flayer yang mengundang seluruh mahasiswa  dengan mengajak mereka untuk kuliah di jalan, dalam flayer tersebur terpampang logo beberapa Kampus besar di Kota Kupang  seperti Kampus Undana, UNIKA dan UMK mulai bertebaran di dunia maya, ajakan tersebut mendapat respon yang dari rektor di masing-masing kampus yang logonya tertera dalam flayer itu.  

Dalam surat edaran Nomor 02/WM.H/SE/2019 Rektor UNIKA dengan tegas tidak mendukung dan tidak terlibat  kegiatan  atau aksi yang akan dilakukang oleh mahasiswa pada tanggal 26. 

Hal yang sama juga disampaikan oleh Rektor Undana melalui surat edaran nomor: 4205/UN15.1/PP/2019 mengatakan bahwa civitas akademika Undana tidak akan terlibat dan tidak mendukung aksi mahasiswa.  

Pandangan saya dalam melarang mahasiswa untuk melakukan aksi demonstrasi  kedua Rektor ini sungguh kompak, betapa tidak dalam surat edaran yang dikeluarkan oleh kedua Rektor ini hampir ada kemiripan dalam segi isi. (baca selengkapnya)

Kekompakan mereka juga terbukti ketika mengeluarkan lagi surat edaran yang baru, namum surat edaran ini berbeda dengan yang pertama, surat edaran yang kedua ini merupakan surat yang menundang seluruh mahasiswa untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan "Rapat Akbar" .

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun