Ada perbedaan mendasar antara cinta yang sehat dan cinta yang merusak.
Cinta yang sehat seharusnya membawa kebahagiaan dan pertumbuhan, bukan rasa sakit dan ketergantungan.
Ketika seorang remaja terjebak dalam hubungan yang toksik, di mana mereka mulai kehilangan diri mereka sendiri atau merasa tertekan untuk memenuhi ekspektasi pasangannya, maka itu bukan cinta.
Itu adalah cerminan dari ketidakdewasaan emosional yang sering kali berujung pada patah hati.
Orang tua yang mendukung pendekatan konservatif terhadap pacaran percaya bahwa anak-anak seharusnya diberi waktu dan ruang untuk tumbuh tanpa gangguan dari drama asmara.
Dengan demikian, mereka bisa fokus pada pengembangan diri dan menghindari risiko terseret dalam hubungan yang merusak.
Saat anak sudah matang, secara emosional dan mental, barulah mereka siap untuk menjalin hubungan yang sehat dan penuh cinta.
Kapan Waktu yang Tepat?
Tidak ada usia yang pasti kapan seorang anak siap untuk pacaran.
Setiap anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda, dan beberapa mungkin siap untuk mulai mengeksplorasi hubungan asmara di usia yang lebih muda, sementara yang lain mungkin baru siap ketika mereka memasuki usia dewasa muda.
Namun, yang terpenting adalah bagaimana anak tersebut dipersiapkan oleh orang tua mereka.
Penting bagi orang tua untuk membangun komunikasi terbuka dengan anak-anak mereka tentang hubungan asmara.