Saya mulai ikut mencoblos pada tahun 1997. Saya masih kelas III SMA waktu itu. KTP belum punya. Tapi dengan KTP sementara saya bisa ikut mencoblos.Â
Partai yang saya coblos adalah Partai Persatuan Pembangunan atau PPP. Partai yang kala itu bisa dibilang mewakili umat Islam. Dua kekuatan lainnya adalah Golkar dan PDI.
Saya banyak baca soal PPP ini dari beragam artikel di majalah dan surat kabar. Sekjen Dewan Dakwah Islamiah Indonesia Hussein Umar kala itu menjadi salah satu juru kampanye PPP. Waktu Husein Umar kampanye PPP di lapangan Enggal, saya lihat dari jauh.
Dia teriak lantang: "Bintang! Bintang! Bintang!" Rupanya logo PPP waktu itu bintang.
Saya juga mencoblos PPP karena ada uwak yang fungsionaris PPP di pusat. Namanya Alimarwan Hanan. Ia pernah menjadi menteri koperasi era Presiden Megawati. Alimarwan Hanan juga pernah jadi wakil ketua umum DPP PPP. Ayah saya dan Alimarwan masih sepupuan dari garis ibu.
Hari-hari belakangan, isu PPP ini ramai. Yang paling ramai tentunya ada kans masuknya kader Gerindra Sandiaga Uno ke partai ini. Hari ini saja Sandiaga Uno hadir acara silaturahmi akbar nasional PPP di Yogya. Sandi pilih hadir di sini ketimbang hadir peresmian kantor pemenangan pilpresnya Prabowo Subianto.
Saya menduga, hanya tunggu waktu saja Sandi bakal betulan jadi anggota atau kader PPP. Hitungan Sandi memang pas kalau pindah.
Ia punya potensi untuk maju. Namun, jika masih di rumah lama, sudah ada nama Prabowo yang tidak bisa digeser lagi. Maka Sandi kemudian mencari pelabuhan lain. Terminalnya nanti kemungkinan besar ya PPP.
Bagi Sandi, bagusnya sebelum pilpres sudah ambil kemudi PPP. Toh yang ada sekarang masih plt. Saya pikir inilah saat yang tepat bafi Sandi punya lokomotif yang bisa ia kendalikan sendiri. Dalam artian tidak selalu dalam bayang-bayang orang lain.
Pengalaman kan sudah punya. Jangan selalu menjadi orang nomor dua. Pengalaman selama ini pantas menjadikan dirinya nomor satu. Target paling dekat ya menjadi ketua umum DPP PPP.Â
Soal aturan di partai, tentu menyesuaikan saja. Banyak kejadian di partai lain juga demikian. Apalagi di daerah, baru gabung, karena punya potensi besar, langsung melesat jadi ketua partai. Apatah lagi bagi seorang Sandiaga Uno yang memang punya kans di situ.