Mohon tunggu...
Adhye Panritalopi
Adhye Panritalopi Mohon Tunggu... profesional -

Alumni Fak. Hukum Univ. Hasanuddin Makassar#Penyair dari Komunitas Halte Kayu Makassar#Penulis tetap di www.negarahukum.com# "AKAN ada banyak "WARNA" sebagi pilihan, tapi seorang SARJANA HUKUM harus berani menerima "HITAM dan PUTIH" sebaggi REALITA" ___Twitter @adhyjudo__FB: Adhye Panrita Lopi

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Manusia Pesakitan

30 April 2014   02:48 Diperbarui: 23 Juni 2015   23:02 72
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

serupa kopi dalam gelas
hidupku mengental kelam_hitam
anganku melepuh sejak kemarin sore
gigil angin datang membawa pesan Tuhan
ia lalu berseru:
"aduklah takdirmu dalam segelas kopi itu kawan"

dan sore ini
kukabarkan pada senja
sekarang aku di jalur lara
diatas jalan setapak berkerikil tajam

duka menjadi alas semua harap
kesedihan kian meruncing
mata-mata hanya memandangiku iba
disini,
kucumbui luka
kudekap erat kenangan
kudapati mimpi terbujur kaku di kaki malam

:gelap menikam mimpiku

air mata
air mata
ada air mata yang tumpah di jalan-jalan
di bawah kolom rumah-rumah pencari Tuhan
pucuk kenangan menjelma haru
lalu air mata mengalir deras
deras sekali
menuju telaga
ya, menuju telaga yang entah

:cinta, telagamu ada dimana?

aku merasakan sunyi
tak ada bisikan dari langit
yang ada hanya kelebat
serupa canda yang tersesat

luka hati kian menganga
tangis pun pecah berkali-kali
mengiringi langkah takdirku yang menggigil

:hidup, inikah wujudmu?, kemana Tuhan?

aku merasa gundah
melihat ujung jalan lara yang entah
bait-bait kesal akhirnya datang menggoda

di hadapan cermin yang retak
di dalam rahim puisi yang remuk
aku menjadi manusia pesakitan

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun