12km ku berjalan dalam jalan setapak menyusuri jalanan terjal,hutan dan gunung seperti soundtrack ninja Hatori yang tayang di salah satu stasiun tv,di temani oleh seorang teman akupun memaksa untuk berangkat,agar hilang rasa keingin tahuan ku tentang orang yang di tunjukan oleh hanif teman ku,imajinasi ku melayang saat aku bertemu dengan seorang gadis dari sebrang desa,kilau hitam rambutnya serta suara yang begitu mengetarkan hati membuatku rela menepuh jarak yang sangat jauh untuk menaklukan sang pujaan hati.
“boz,masih jauh nih tempat yang kita tuju”? ucap ku pada hanif
“tenang bro,bntar lagi ko sampai,tuh lihat rumah yang ada di samping pohon itu”!
hanif sambil menunjuk kearah rumah yang memang sudah terlihat atapnya,akupun dengan semangat 45 menpercepat gerakan langkah kaki ku,berharap jalan yang aku lalui dapat terlipat agar aku dengan mudah sampai ke tempat tujuan ku.
Secara garis besar memang wajah ku lumayan dapat dikatakan perfect maksudnya bukan perfect ganteng yang dapat dengan mudahnya di puja oleh para wanita tapi perfect mempunyai 2 mata,hidung,telinga ups tidak ketinggalan mulut untuk mengunyah gorengan pisang kesukaan ku,yah lumayanlah kalo ngaca ga membuat aku lari ketakutan akan tampang ku sendiri.
Yang membuat aku sanggup untuk menempuh jalan kaki 12km hanya karna bintang gadis yang telah membuat ujung kaki sampai kepala sanggup tak mandi selama tiga hari hanya menghayalkan sosok paras gadis itu,yah bintang sosok gadis desa bersenyum laksana strobery yang siap untuk di santap,gadis dengan paras ayu namun tak mudah tertipu,gadis yang berambut panjang hitam mengkilat yang membuat aku terpikat.
“bos,mana nih katanya sebentar lagi”?tanya ku kepada hanif
“sabar bro,nah habis ini ada tikungan lurus,terus belok,terus lurus baru kita sampe”
“yang bener nih bos”?jawab ku
“serius bro”
akupun mengikuti langkah hanif yang tak pernah merasa lelah
Akhirnya akupun tiba di rumah yang kami tuju, tanpa basa-basi hanif pun langsung mengetuk pintu.
“Punteun,Assalammualaikum… Bah…abah…” suara hanif menggema seantereo rumah
“wa’alaikum salam’…Saha nya?(siapa ya)jawab yang di dalam rumah
“abdi bah,nu di ciampea”,(saya bah,yang dari ciampea)
“ooh,mangga atuh kalebet”(silahkan masuk kedalam)
seorang kakek tua dengan ikat kepala hitam keluar,menggunakan baju hitam serta celana hitam seperti baju adat daerah baduy.
Akupun masuk mengikuti hanif dari belakang,dan duduk di atas selembar tikar,lemari dari kayu yang sudah reot,sebuah lukisan photo seorang kiai yang aku tak tahu siapa,sambil membuatkan minuman sikakekpun pergi kedapur yang hanya dibatasi oleh sehelai gorden hijau sebagai pintunya,aku melihat sekeliling ruangan sedikit kedalam sebuah kamar serta ruangan yang gelap berada di samping dapur.
Aku menghela napas panjang,melepas rasa lelah yang seakan sampai keujung kepala.
“boz,bener nih orang nya?ko gak menyakinkan nya?”
“ssttt,jangan ngomong gitu ntr sia abah tau?” hanif memandang ku dengan muka
kesal.
Aku pun kaget atas tindakan hanif yang begitu kesal dengan pertanyaan ku
selang 5menit abah sudah keluar membawa 2gelas serta sebuah tempat minum yang terbuat dari almunium
“mangga atuh di le’et!”(sialahkan di minum)
“hatur nuhun bah”kami berdua kompak menjawab
“abah tau apa yang kamu mau” kakek itu membuka pembicaraan (seperti iklan
minuman)
“iya bah saya kesini ada perlu”kata ku
“makanya abah tau kalian jauh-jauh kesini pasti ada keperluan,kalo engga ada keperluan mungkin kalian ga akan datang kesini”kata kakek itu
bener juga ucapan abah ini guman ku
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI