Mohon tunggu...
Achmad Saifullah Syahid
Achmad Saifullah Syahid Mohon Tunggu... Penulis - Penulis

orang-orang cahaya berhimpun di dalam tabung cahaya, tari-menari, di malam yang terang benderang sampai fajar menjelang di cakrawala.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Overpromise Pesantren Kilat di Sekolah

8 Juni 2016   01:43 Diperbarui: 9 Juni 2016   02:13 639
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan Harga Diri | Sumber: dewitnet.com

Mohon tidak salah paham atau menyebarkan paham yang salah. Bukan terutama karena pesantren kilat atau yang dikenal dengan “sanlat” tidak penting. Bukan terutama sebab kegiatan yang dijalankan di bulan Ramadhan itu sia-sia tiada hasil. Tulisan ini mengajak kita kembali pada pemikiran dasar bahwa pendidikan tidak pernah meraih hasil dalam waktu yang sangat singkat. Pendidikan – ibarat orang menanam – tak ubahnya seperti menebar benih bagi tanaman masa depan.

Bermula dari keluhan seorang teman yang bersikap uring-uringan terhadap kegiatan pesantren kilat yang diselenggarakan oleh sekolah. “Kegiatannya baik dan layak didukung,” ungkap teman saya, “Tapi mbok ndak usah pasang janji yang muluk-muluk!”

“Muluk-muluk bagaimana?” penasaran saya dengan ceritanya.

“Pesantren kilat yang diselenggarakan hanya dua hari ditambah satu malam menginap di sekolah, katanya, siap membentuk siswa yang bertauhid dan beriman kuat serta mencetak siswa berkahlak mulia. Cita-cita yang sangat agung dan mulia itu – bayangkan – diraih cukup dalam waktu dua hari satu malam. Edan! Guru-gurunya pasti dari golongan para malaikat!” ungkap teman saya sambil tertawa nyinyir.

Tertawa saya pun meledak. Ia berbicara dengan logat dan gaya layaknya pengamat pendidikan kelas wahid.

“Kamu mestinya bersyukur!” saran saya, “Anakmu bersekolah dan dibimbing oleh guru-guru hebat berkualitas. Mereka sanggup melakukan gerak percepatan pendidikan sedemikian kilat sehingga hanya memerlukan waktu tidak lebih dari tiga hari untuk mencetak generasi islami.”

“Halaaah…kamu malah meledek. Kita berpuasa sebulan penuh belum tentu lulus menjadi hamba yang bertakwa. Kok ada kaum terdidik menawarkan iming-iming yang tidak masuk akal.”

***

Apa yang disampaikan teman saya merupakan overpromise yang kerap menjangkiti dunia pendidikan. Dalam kasus ini yang terjangkiti adalah kegiatan pesantren kilat atau pondok ramadhan yang menjamur di sekolah. Harapan yang terlalu naif dan terkesan tidak masuk akal. Atau munculnya harapan semu ini jangan-jangan merefleksikan sikap putus asa masyarakat atau wali murid terhadap gagalnya institusi pendidikan formal menegakkan pilar-pilar pendidikan akhlak.

Di tengah momentum ramadhan yang menyulap hampir semua aktivitas berbaju islami, mencuat harapan bagi terciptanya generasi bermoral dan berakhlak mulia. Semua mendadak religius, ungkap teman saya. Momentum yang ditangkap secara gagap dan kehilangan rasionalitas. Mumpung ramadhan tiba mari menanam harapan setinggi langit. Anak-anak harus berubah menjadi insan yang mulia – dalam waktu sesingkat mungkin.

Problemnya adalah, katakanlah, merubah perilaku yang tidak berakhlak mulia menjadi berakhlak mulia dalam waktu yang cukup singkat. Mengapa menjadi problem? Ramadhan dengan segala keistimewaan di dalamnya bukanlah alat untuk melegitimasi percepatan hasil pendidikan. Adapun malam lailatul qadar misalnya, dijadikan sebagai malam percepatan yang lebih baik dari seribu bulan merupakan Hak Mutlak Allah. Kita tidak bisa ikut-ikutan merampas jatah takdir lalu menjanjikan percepatan bagi hasil pendidikan seenak yang kita mau.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun