Mohon tunggu...
Achmad Saifullah Syahid
Achmad Saifullah Syahid Mohon Tunggu... Penulis - Penulis

orang-orang cahaya berhimpun di dalam tabung cahaya, tari-menari, di malam yang terang benderang sampai fajar menjelang di cakrawala.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

"Ayo Rek, Awake Dijogo!"

4 April 2020   16:05 Diperbarui: 4 April 2020   16:07 390
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto: Japelidi. Teks diolah dan disesuaikan kebutuhan. Desain: Dok.Pribadi

"Mak, niki masker gratis, mboten bayar. Menawi medal saking griyo masker-e didamel." (Mak, ini ada masker gratis, tiday perlu bayar. Kalau keluar rumah maskernya dipakai)

"Ojo dibuak yo Rek. Masker iki iso diumbah." (Jangan dibuang ya. Masker ini bisa dicuci)

"Pakdhe, wayah narek becak ndamel masker. Kersane aman lan sehat. Mugi-mugi rezeki tetep lancar." (Pakdhe, kalau lagi narek becak pakai masker. Biar aman dan sehat. Mudah-mudahan rezekinya tetap lancar)

Kalimat yang menggunakan bahasa Jawa itu spontan meluncur. Anak-anak muda di kampung saya memberikan edukasi pentingnya memakai masker saat keluar rumah. Pembagian masker gratis ini kerja sama antara Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN Mojokerto dengan FP3 Jagalan.

Blok rumah kontrakan itu memang dihuni oleh para pekerja harian. Rasanya mustahil menyuruh mereka bekerja dari rumah. Pasalnya, setiap pagi, sore atau malam hari mereka berjualan pisang molen, bakul mlijo, narek becak. Pengangkut sampah pun berkeliling desa setiap pagi.

Beberapa hari terakhir ini warga masyarakat Jombang umek. Para pedagang kecil yang berjualan di malam hari, terutama warung kopi, didatangi Satpol PP. Warung harus ditutup. Yang masih buka akan diangkut ke kantor polisi. Mereka harus menandatangani surat pernyataan tidak membuka warung.

Dinamika ini menarik untuk dicermati. Upaya yang dilakukan Pemkab Jombang untuk mencegah penyebaran Covid-19 patut diapresiasi. Namun, melarang masyarakat berjualan di malam hari tanpa upaya edukasi dan pemberian solusi bukanlah keputusan yang bijaksana.

Di media sosial netizen pun mbengok. Mereka protes atas keputusan yang dinilai bisa mematikan sandang pangan wong cilik. Kalau penutupan itu dilakukan untuk menghindari kerumunan warga, apakah tidak tebersit gagasan yang lebih cerdas dan bijaksana untuk menerapkan social distancing dan physicial distancing.

Selain jeritan pedagang kecil, kita juga disodori fakta yang lain. Beberapa toko besar masih buka dan melayani pembeli yang berkerumun. Toko-toko itu beraktivitas seperti biasanya, seolah-olah sedang tidak terjadi apa-apa saat ini.

Kita tidak bisa menutup mata atas ketimpangan ini. Termasuk ketimpangan informasi yang beredar melalu pesan WhatsApp. Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G Plate menyatakan, penyebaran hoaks terbanyak diketahui melalui WhatsApp.

Hal itu dibuktikan oleh Engelbertus Wendratama, peneliti di PR2Media, yang melakukan survei sederhana. Masyarakat menerima segala jenis informasi tentang Covid-19 dari WhatsApp sebanyak 37,1%. Adapun yang menerima informasi dari media online sebanyak 16,7%.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun