Pemberantasan buta aksara tidak sekadar mengajar baca tulis guna melek huruf. Upaya ini semacam pintu masuk, begitu pintu terbuka, banyak hal bisa dilakukan. Konteks sosial budaya masyarakat jangan sampai terabaikan.
Sayangnya, pemberantasan buta aksara sering dikaitkan dengan literasi dalam pengertian yang sempit. Literasi yang dipahami secara konvensional tidak lebih sekadar gerakan memberantas buta huruf.
Pengertian ini tidak akan memberikan manfaat selain mengajarkan masyarakat baca dan tulis. Hanya itu, tidak lebih.
Padahal, tantangan yang dihadapi daerah terpencil, terpinggirkan dan terisolasi cukup kompleks. Mereka bukan mengalami buta aksara saja. Mereka dibelenggu oleh rantai kemiskinan. Hal ini tidak sertamerta terselesaikan dengan modal kemampuan baca dan tulis saja.
Demikian pula mengatasi akses kesehatan yang sulit, kesadaran pendidikan yang rendah, hingga beragam keterbelakangan yang menghimpit, tidak bisa mengandalkan solusi melek aksara.
Kompleksitas keterbelakangan, baik yang terjadi di daerah terpencil maupun di pinggiran kota-kota besar, merupakan akumulasi akibat ketidakadilan sosial.Â
Menumpuk, tumpang tindih, berlipat-lipat, sedemikian rupa, sehingga yang dibutuhkan adalah gerakan bersama yang menyentuh kesadaran individual dan komunal.
Gerakan yang diberangkatkan dari modal sosiologis dan antropologis akan memiliki akar yang kuat. Dia ditanam lalu tumbuh di tanah kesadaran warga tidak sebagai "pohon kesadaran" yang asing.
Melek aksara adalah satu tahap pencapaian dari sekian tahap berikutnya. Dia adalah akibat logis dari gerakan pemberdayaan masyarakat.
Ternyata yang kita hadapi bukan sekadar persoalan buta aksara, lalu bagaimana upaya memelekkan masyarakat. Keadilan sosial yang belum merata itulah penyakit yang sesungguhnya.[]
Jagalan 200919