Untuk dapat melahirkan naskah yang baik, seorang penulis tidak akan beralih pada naskah lain sebelum naskah yang tengah digarap itu selesai. Sebab sekali beralih ke naskah lain, naskah yang tengah digarap dapat terbengkelai. Apabila naskah yang terbengkelai itu kembali dilanjutkan, hasilnya tidak akan maksimal. Karena, irama emosional penulis terputus.
Tidak Kenal Putus Asa
Seringkali seorang penulis menghadapi masalah dengan naskah yang tengah digarapnya. Ketika menggarap naskah, penulis mengalami kesulitan untuk melanjutkan atau menyelesekainnya. Bila penulis mengalami masalah ini, jangan cemas dan putus asa. Sebaiknya penulis sejenak melakukan refreshing untuk kembali menyegarkan pikiran. Bila pikiran kembali segar, penulis akan kembali menemukan kemudahan dan semangat baru untuk kembali menggarap atau menyelesaikan naskah tersebut.
Memiliki Semangat Baja
Seorang penulis harus memiliki semangat baja. Tidak mudah putus asa, bila naskahnya ditolak oleh media massa atau penerbit. Intinya, seorang penulis harus terus menulis. Terus meningkatkan kualitas karyanya. Terus mengirimkan karya-karyanya ke media massa dan penerbit. Hingga karya-karya tersebut berhasil dimuat di media massa atau diterbitkan oleh penerbit. Hanya dengan cara demikian, seorang penulis akan survive dan dapat memenuhi kebutuhan ekonominya melalui karya-karyanya.
MenjalinKomunikasi dengan Sesama Penulis
Seorang penulis yang ingin maju dan berkembang harus selalu menjalin komunikasi kreatif dengan sesama penulis. Karena melalui komunikasi tersebut, seorang penulis akan termotivasi untuk selalu berkarya. Bila kita seorang yunior, hendaklah selalu melakukan komunikasi dengan penulis senior. Melalui penulis senior, ktia akan mendapatkan pengetahuan seputar dunia kepenulisan. Tidak hanya berkaitan dengan bagaimana menulis yang baik, namun pula bagaimana menerapkan strategi agar karya tulis kita dapat dimuat di media massa atau penerbit.
Proses Menulis
Untuk menjadi seorang penulis profesional dan andal diperlukan pengetahuan tentang proses menulis yang baik. Lantas bagaimana proses menulis yang baik? Menurut pendapat dari para ahli, bahwa proses menulis yang baik itu terdiri dari lima tahapan, yakni:
Pengamatan
Langkah pertama sebelum menulis, seorang penulis harus melakukan observasi terhadap obyek, misal obyek tentang lingkungan pantai. Di dalam lingkungan pantai tersebut, terdapat point-point yang daapt diamati oleh seorang penulis, semisal: kehidupan orang-orang pantai, sampah dan limbah yang mengancam pelestarian ikan-ikan, pantai sebagai tempat wisata, dll.