Mohon tunggu...
Acerevan
Acerevan Mohon Tunggu... -

Bukan bisa atau tidak bisa, melainkan mau atau tidak mau.

Selanjutnya

Tutup

Puisi

49 — Penyakit Manusia

24 Agustus 2014   04:52 Diperbarui: 18 Juni 2015   02:43 25
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

1. Ketika masih muda, belum berpengalaman.
2. … Dan merasa sudah berpengalaman.
3. Ketika bertambah tua, sudah berpengalaman.
4. … Dan merasa sudah bijak.
5. Ketika menjadi bijak, sudah terpanggil ke Sorga.
6. Membangkang mencari aturan.
7. … Dan mencari cara untuk melanggarnya.
8. Terlahir terbatas, berusaha tak terbatas.
9. Terlahir berbeda, berusaha untuk menjadi sama.
10. … Dan ketika sudah menjadi sama, itu semua terjadi ketika kita sudah dipanggil oleh Bapa.
11. Berusaha mencari jati diri.
12. … Yang sebenarnya sudah menunggu di sebelahmu sejak dulu.
13. Menolak jati diri yang diberikan.
14. … Dan menjadikan no. 11 sebagai alasan untuk memberontak.
15. Berjiwa muda, berlebih semangat.
16. Tak tahu waktu sehingga batasan ditebas.
17. Tak tahu apa-apa dan tak berusaha mencari tahu.
18. … Atau berpura-pura tahu.
19. Kesusahan sehari (tidak) hanya untuk sehari.
20. … Tetapi hal yang sama diperbincangkan hari ini, besok, dan lusa.
21. Meraih jati diri yang lama dicari.
22. … Melepas semangat yang sudah ada di tangan.
23. Mereguk keuntungan sebesar-besarnya,
24. … Dan menebar ikatan rantai sebanyak-banyaknya.
25. Mengingat akan sang Pencipta
26. … Hanya. Meningat.
27. Sejuta histori sudah membukit.
28. … Dibiarkan mendekam tak terusik.
29. Memfavoritkan kata: DIRI dan SENDIRI.
30. Menekan susu mentega dihasilkan, menekan hidung darah keluar.
31. Menekan amarah pertengkaran timbul.
32. Menahan tangan untuk bekerja,
33. Menebar jala di sisi kapal.
34. … Membiarkan yang lain terjungkal.
35. Malu untuk mengaku.
36. Gengsi karena dengki.
37. Membiarkan ego mendominasi.
38. Membuktikan “Aku ini sempurna, ASLI!”
39. Melupakan akar dari segalanya.
40. “Kita semua berawal dari bawah, kawan!”
41. Memohon pada sang Pencipta menjamah bumi.
42. Perbanyak rantai mencari sensasi.
43. Tak biarkan hubungan tercapai.
44. Kekudusan hanyalah di tempat ibadah.
45. Tuhan adalah kata kudus.
46. Di luar tempat ibadah hilangkan kekudusan.
47. Lahir dari rahim seorang ibu, bahkan keluar sendiri pun tak mampu.
48. Namun melupakan dekap yang selalu merangkul.
49. … Perjalanan masih panjang dan meraung, “Aku mampu sendiri!”

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun