/VI/
Kini sampailah sang putra kesayangan
pada sebuah negeri tak berbayang-bayang
tak ada citra yang mampu merefleksikan keberadaan mereka
penduduknya bicara tanpa aksara
keadaan mereka tak ubahnya resi pertapa
kalis dari duka dan dunia
lidahnya kelu sepenuhnya dari dusta
syuhud kalbunya sunyi dari hal sia-sia
tangannya tak pernah menjamah rupa benda-benda
kakinya hanya menapak ke arah yang baka
inilah negeri makna-makna
ketika hening belum terucap ke aksara
inilah negeri jiwa dan ruh-ruh suci
tempat segala rahasia masih rapat terkunci
"Kun!" gema sebuah firman
Ruh-ruh itu segera berpencaran
Menempati jasad-jasad peran yang ditakdirkan,
Suatu ruh yang zatnya selembut belaian
Mengenakan jasad pralambang sebagai pakaian,
Yang lain-lainnya dengan ghazirah kecenderungan
Mengenakan topeng-topeng yang lebih profan;
Duka, kebahagiaan, kekalahan dan kemenangan
Kehidupan dan kematian
Hingga tinggal sebuah anasir yang tak mengambil peran
Sang Anginpun duduk di cadas bebukitan
Bersiap menyimak tutur sabda pralambang:
"Akulah yang menciptakan sungai perasaan
 sebagai alur 'tuk melarung kedukaan
 kutaburi ia dengan garam amarah
 rasa tidak puas, permusuhan
 dan sedikit madu perpisahan
 segala hal yang mulanya nampak saling bertentangan
 namun hakikatnya adalah pasangan untuk saling menemukan,
 Bila suatu ketika seseorang oleh garam amarah dibutakan
 suatu hari ia akan dipermalukan kejernihan pikiran
 Tatkala seseorang diserang rasa kurang tak berkesudahan
 suatu saat ia akan berangkulan dengan santunnya kenyataan
 Saat seseorang diombang-ambingkan amuk permusuhan
 disitulah ia akan menyadari pentingnya persahabatan
 Dan ketika segala peristiwa itu berlalu meninggalkan
 hati kita hanya menyimpan manisnya kesan,
 Duka hanyalah saat-saat telanjang
 ketika aksara belum tersusun jadi makna
 ibarat lahan yang baru selesai dibajak
 tak ada sebatang tanaman tampak
 namun bagi petani yang sudah bijak
 ia tahu bahwa lahan sudah siap disemai,
 begitulah duka membajak hati kita dalam-dalam
 memporak-porandakan perasaan dengan hal-hal yang tidak menyenangkan
 namun sebenarnya ia sedang memberi asupan agar pemahaman kita bisa berkembang."
"Bagaimana dengan kebahagian,
 Kenapa ia tak bisa tinggal diam?"
"Tidak akan pernah cukup alasan
 untuk meminta kebahagiaan agar tetap tinggal diam,
 Sepasang pengantin tidak akan bisa mengulang malam pertama
 Seorang remaja akan bosan sendiri dengan angannya
 Bagi sang raja hanya ada satu kemenangan paling mengesankan
 Dan bukankah kembang hanya sekali mekar dalam pertumbuhan?
 Namun tak ada keluhan tentang kebahagian
 Karena sesungguhnyalah kesenangan itu
 tak bisa hidup di ruang yang stagnan
 ia akan tumbuh berkembang seiring dengan pemahaman
 seseorang tentang kehidupan
 akan memuai mencari ruang-ruang baru
 yang misterinya lebih mengasyikkan."
Melihat sang Angin masih haus tuturan
Sang Pralambangpun melanjutkan:
"Dan apakah kalah dan menang itu
 Selain sepasang musim yang saling memuliakan?
 Bila musim kemarau datang bertandang
 Musim hujan membukakan jalan
 Bagi hasil tanah berupa panenan
 Mempersembahkan sari-sari keberkahan
 dari huma dan sawah ladang
 Kedatangan kemarau tidak membuat penghujan merasa tersisihkan
 Karena ia paham segala sesuatu ada giliran
 Semua yang lahir dari rahim alam tidak ada yang dianaktirikan,
 Dan tatkala kemarau berlalu
 Musim hujan datang berlagu
 Memugar suasana jadi hari-hari baru
 Angin utara malam-malam akan menderu
 Tanggul membual-bual di hulu
 Ribuan katak menyanyi dengan suara merdu,
 Tiba saatnya talam kelimpahan disyukuri
 dengan terus menekuni kerja sehari-hari
 Dari siklus yang datang silih berganti
 kedua musim akan terus kita rindui,
 Tak akan pernah kau dengar sorak kemennagan salah seorang
 Sebab keduanya saling mengisi dan membutuhkan
 Tak mungkin kita mengetahui suatu kedalaman
 tanpa menggunakan pihak lain sebagai ukuran,
 Musim hujan adalah waktu untuk menabur bibit harapan
 Sedang musim kemarau adalah saat untuk mengukur keberhasilan impian
 Sebagaimana kekalahan adalah waktu untuk berendah hati
 Dan kemenangan adalah saat untuk memanjakan diri,
 Tidakkah keduanya saling mengisi?
 Antara kerendahan hati dan sikap memanjakan diri
 Disitulah justru orang bisa menemukan jati diri."
Kemudian sang Angin membubung ke keluasan galaksi
Menapaki gugusan-gugusan bima sakti,
Maka tampaklah istana-istana pualam
Bersepuh cahaya rembulan
Taman-taman bunga mengalungi pegunungan dengan tamasya keindahan
Kota-kota megah yang tak kunjung sunyi dari perniagaan,
Tapi nun jauh di keterpencilan sepi
Ribuan tahun cahaya dari hangatnya hati
Menjamur kardus-kardus usang di pinggir-pinggir kali
Bersenyawa dengan limbah dan kotoran babi,
Iapun tercekat ngeri;
"Yang manakah sebenarnya kenyataan?"
Sang Pralambang menuturkan jawaban:
"Mereka adalah dua sisi kenyataan yang saling meniadakan,
 Sang hartawan menganggap kepapaan
 adalah dongeng pelengkap kenikmatan
 Sementara para dhu'afa menyangka
 kelimpahan hanya ada dalam sorga
 sedang mereka tak memiliki kuncinya,
 dan sungguh masing-masing prasangka
 telah memisahkan mereka beribu-ribu tahun cahaya,
 maka dapatlah kau saksikan
 Betapa kota-kota asing dari damai bersahaja
 Istana-istana sepi tanpa raja bijaksana
 Panji-panji kemuliaan runduk di belakang
 Prosesi penguburan rumah-rumah Tuhan
 Umbul-umbul kemegahan dipasang
 Demi mengagungkan angkara kekuasaan
 Kemah-kemah perbudakan didirikan
 Hanya untuk melayani syahwat kerakusan
 Tempat-tempat ibadah penuh ritus pemujaan
 Namun kosong dari berkah keilahian
 Lembaga pemerintahan penuh undang-undang
 Tapi amat jauh dari suasana pengayoman
 Negeri-negeri makmur tidak membuahkan kebahagiaan
 Sementara bangsa-bangsa terbelakang hidup dari nafas masa silam!"
Suaranya terputus oleh pahitnya kenyataan,
Sang Pralambang lalu meneruskan:
"Bila kau lihat sesuatu mengenakan busana kemegahan,
 Ketahuilah jantungnyapun sedang dikorek cakar kematian
 Sementara ia mabuk dalam sukacita kesenangan
 Hari-harinya dipendekkan
 Dan tahu-tahu ia dikepung getirnya penyesalan,
 Sebaliknya, bila kau perhatikan seseorang hidup penuh kemuraman
 Seakan selalu dikejar bayang kematian
 Maka memang tak pantas ia mendapatkan kesenangan
 Terlalu pelit ia memberi kesempatan
 Pada hatinya untuk melihat luasnya rahmat Tuhan."
Kini tinggal sebuah anasir yang tetap tinggal diam
Sang Angin memberi isyarat untuk sebuah penjelasan,
Maka kepadanya diberi keterangan:
"Dialah anasir nirfana yang melambari segala yang ada
 Dialah muara segala sungai kesudahan
 Kuasa yang mengatasi perubahan
 Tangan yang menggenggam nasib dan alur perjalanan
 Adanya lebih kekal dari kehidupan
 Lebih perkasa dari tak terelaknya kematian
 Padanyalah Tuhan mempercayakan neraca untung dan kerugian,
 Waktu bergerak melintasi sejarah
 Generasai dan kosmos yang berevolusi
 Dipadukannya sedih dan gembira dalam satu cawan
 Agar pengrasaan kita mencapai kesempurnaan
 Dipergilirkannya kalah dan menang penuh kearifan
 Supaya hati kita terjaga dalam kesadaran
 Dianugerahinya kita dengan kelimpahan dan kekurangan
 Supaya jiwa kita bebas dari ketergantungan keadaan
 Dibaginya kemarau dan penghujan penuh kecermatan
 Agar kita bisa menyelami hikmat keadilan
 Dipertontonkannya karnaval kehidupan
 Juga prosesi perarakan kematian
 Agar Sir kita mengenali sejati Keabadian."
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI