Perjalanan multi connecting belum menjadi primadona saat ini, namun dengan perkembangan teknologi dan ketepatan jadwal Kereta Api, Multi Connecting KAI akan menjadi pilihan utama bagi para pemudik. Dengan perencanaan yang matang, interkoneksi antar-stasiun bisa lebih efisien, memungkinkan perjalanan yang lebih nyaman dan tanpa hambatan.
Mudik nyetir sendiri di usia seperti saya ini jelas sangat riskan. Tubuh sudah gampang capek, mata cepat mengantuk, dan perjalanan panjang sering kali menjadi penghambat.
Meskipun jalan tol kini terbentang jauh hingga ke Probolinggo, tetap saja ada keraguan untuk mengemudi sendiri. Pilihan terbaik? Tentu saja moda transportasi umum. Namun, menggunakan transportasi umum seperti KAI bukan hanya soal naik dan berangkat begitu saja. Perjalanan ini harus direncanakan dengan matang, dari rute hingga jadwalnya, agar interkoneksi antar-stasiun tidak membuat kita terjebak menunggu terlalu lama.
Untungnya, kini perjalanan dalam kota menjadi lebih mudah. Jika tidak ada keluarga yang bisa mengantar, layanan transportasi online menawarkan solusi nyaman dan terjangkau. Tarif murah, kendaraan nyaman, dan yang terpenting, tidak perlu repot mencari parkir.
Perjalanan mudik ini dimulai dengan Kereta Bima dari Bekasi menuju Jombang, sebuah kereta kolosal yang namanya sudah terkenal sejak zaman dulu. Kereta ini menawarkan kenyamanan serta nuansa klasik yang tetap melegenda hingga kini.
Sebuah perjalanan yang bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi juga kesempatan menikmati keindahan lintasan trayek selatan yang membelah perbukitan dan hamparan sawah luas. Angin sejuk pegunungan yang menyelinap melalui jendela, pemandangan sawah yang menghijau, hingga senyum ramah penjual makanan di stasiun perhentian, semuanya menciptakan suasana mudik yang tak tergantikan.
Sampai di Jombang, silaturahmi pertama dilakukan, menikmati obrolan hangat bersama keluarga, sambil menyeruput teh manis buatan keluarga besar.
Pagi hari, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan Kereta Lokal Commuter line Panataran menuju Surabaya Wonokromo, di mana sanak saudara sudah siap menjemput. Setelah seharian beraktivitas, menginap di hotel menjadi pilihan tepat untuk beristirahat dan mengisi energi sebelum melanjutkan perjalanan berikutnya.
Menginap semalam di Surabaya menjadi pilihan terbaik untuk mengistirahatkan tubuh setelah perjalanan panjang. Malam di kota Pahlawan membawa kesempatan mencicipi kuliner khas yang melegenda---rawon hitam dengan potongan daging empuk, atau lontong balap dengan kuah segar yang menggugah selera. Makan di pinggir jalan, sambil mengamati kendaraan lalu lalang, membuat nostalgia perjalanan semakin hidup.
Esok paginya, perjalanan berlanjut ke Lamongan, kota kecil yang menyimpan kenangan masa kecil. Dari Stasiun Pasar Turi kami menuju Lamongan dengan naik kereta Arjonegoro. Bersilaturahmi dengan keluarga besar, mendengar cerita lama, hingga menikmati soto Lamongan yang legendaris. Namun, petualangan belum berakhir. Masih ada satu destinasi terakhir---
Bojonegoro, tempat di mana kenangan masa lalu masih menyisakan jejak. Dengan kereta commuter Blora Sura yang tarifnya super murah, perjalanan ini terasa semakin hemat dan menyenangkan. Dua jam perjalanan terasa begitu cepat, mengingat dibandingkan harus berjuang menembus kemacetan yang sering kali terjadi di jalur darat.