Meunju hari pemilihan pada tanggal 27 November mendatang, gegap gempita para paslon kepala daerah semakin meningkatkan strteginya dalam menarik simpati masyarakat pemilih. Di Kabupaten Landak Kalimantan Barat dengan dua paslon head to head menjadikan situasi jelang hari pencoblosan cukup menghangat.
Sejak era media sosial menjadi lapangan pertarungan kompteisi politik, berbagai konten kampanye dapat disaksikan secara real time dengan cepat dan mudah. Sehingga, dalam pendekatan marketing politik berlaku adigium bahwa mereka yang cerdas memanfaatkan platform media sosial, merekalah yang berpotensi unggu dan memenangkan pertandingan. Meskipun bukan satu-satunya, medsos mejadi alat paling efektif terutama untukk menyapa generasi baru: Gen-Z yang jumlah populasinya relatif signifikan dalam pemilu tahun ini.
Membaca Gestur Karolin di Medsos
Tanpa bermaksud membedakan jenis kelamin, sosok perempuan dalam ranah politik relatif lebih memiliki daya tarik. Kenapa? Karena umumnya lapangan politik didominasi oleh kaum laki-laki. Kehadiran dan penerimaan sosok perempuan di lapangan politik menandakan telah terjadi pergeseran cara pandang publik Indonesia tentang kesetaraan gender. Dan itu positif sebagai gambara masyarakat yang semakin rasional dan objektif.
Selain karena perempuan, Karolin adalah sosok muda yang energik dan selalu tampil prima secara fisik. Berbeda dengan calon-calon lain yang sudah memiliki "keterbatasn langkah". Mengapa kesehatan fisik menjadi penting? Karena mengelola daerah, apalagi daerah pedalaman yang secara geografis masih memiliki problem infrastruktur, jasmani yang prima menjadi alasan yang tidak bisa ditawar.
Sosok muda saja masih jauh dari kapabilitas sebagai calon kepala daerah. Ia dituntut mengantongi pengetahuan dan pengalaman baik di lapangan legislatif maupun eksekutif. Karolin dalam perjalanannya memiliki keduanya. Ia pernah menjadi anggota DPR RI dan menjadi kepala daerah satu periode.
Idealisme dan fakta-fakta di atas dengan mudah diekspresikan dalam berbagai platform media sosial. Sepertinya, Karolin tidak lagi membutuhkan pencitraan yang berlebihan untuk memoles citra dirinya. Ia hanya butuh mengingatkan warga masyarakat berdasarkan pengamatan dan pengalaman masyarakat itu sendiri. Sehingga, yang tampil di media sosial bukanlah aneka rekayasa untuk seolah-olah dicintai masyarakat misalnya dengan melakukan mobilisasi massa dengan ongkos yang mahal.
Dalam tangkapan di media sosial, baik di platform Instagram dan terutama TikTok, sosok Karolin memang tampil prima sebagai "anak muda", hangat, smart, segar, dan full senyum. Untuk tampil dengan performa demikian tentu tidak mudah dilakukan kecuali memang muncul dari dalam dirinya sendiri.
Semua ukuran itu juga tercermin dalam survei yang menempatkan Karolin memiliki tingkat keterkenalan, penerimaan, dan keterpilihan yang melampau dari pesaingnya. Hal demikian wajar sebagai potret dari kenyataan di lapangan.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H