Pukul 01.00 waktu Suriah, Kamis dini hari tanggal 3 Februari 2022, sejumlah helikopter pasukan khusus AS masuk ke desa Atmah di pinggiran kota Idlib, barat laut Suriah. hanya berjarak 2 km dari perbatasan Turki (Provinsi Hatai) guna melancarkan operasi kontra terorisme, menangkap atau membunuh pemimpin tertinggi ISIS, Abu Ibrahim al-Hashmi al-Qurayshi (Abu Ibrahim al-Quraishi).
Pendaratan pasukan airdrop dari helikopter diketahui sejumlah milisi HTS yang mengawasi lokasi sekitar rumah Abu Ibrahim al-Quraishi, pemimpin tertinggi Hayat Tahrir al-Sham (HTS) yang ditunjuk menjadi "khalifah" ke dua ISIS, pengganti Abu Bakar al-Baghdadi sejak 2019 lalu.
Pengeras suara yang dipancarkan dari sebuah helikopter meminta agar warga di sekitar rumah al-Quraishi segera menyingkir atau menjauh. Sementara itu sebuah rumah permanen yang ditempati al-Quraishi yang berjarak hanya 800 meter dari pos penjagaan Polisi Militer Turki telah dikepung oleh pasukan khusus AS.
Melalui alat pengeras suara dari helikopter, Al-Quraishi dan pengawalnya diberi kesempatan menyerahkan diri dalam tempo 30 menit namun mereka menolak menyerahkan diri.
Setelah itu barulah pasukan AS melancarkan serangan yang diperkirakan berlangsung selama 2 jam karena mendapat perlawanan kurang berarti dari sejumlah milisi HTS di sekitar kawasan tersebut.
Setelah serangan mereda pasukan AS menguasai keadaan kemudian melakukan proses pengambilan DNA dan membawa serta 10 orang warga termasuk dari rumah al-Quraishi. Total waktu untuk operasi tersebut dari saat penerjunan hingga usai hampir 3 jam.
Menurut laporan versi John Kirby, jubir Gedung Putih, setidaknya 13 orang tewas termasuk 6 anak-anak dan 4 wanita serta al-Quraishi dan 2 pengawalnya. Tak ada satupun tentara AS yang terluka meskipun AS terpaksa menghancurkan sebuah helikopter serbu MH-60 mereka di sebuah lokasi kurang dari 1 mile dari rumah target operasi.
Masih menurut sumber yang sama disebutkan al-Quraishi dan 2 pengawalnya tewas di lantai 3 akibat meledakkan diri melalui bom yang dipasang di rompi mereka. Sementara 10 orang lain tewas di lantai dua dan lantai dasar.
Kondisi bangunan tersebut, lantai 3 hancur total, sementara lantai 2 rusak sedikit dan lantai dasar tidak mengalami kerusakan berarti. Kondisi al-Quraihi dan pengawalnya tewas dengan cara sangat mengenaskan terpotong tiga bagian.
Seorang warga di desa tersebut, Mohammed al-Omar, 65, mengatakan kepada NBC rumah yang digunakan al-Quraishi adalah rumah putranya yang sejak 2016 telah berada di Jerman. Rumah itu disewa oleh seseorang tanpa menjelaskan yang menyewa adalah jihadis paling dicari-cari AS.