Renungan di Tepi Jalan: Sepi dalam Sibuknya Kehidupan
Pria itu duduk sendirian, terlihat tenggelam dalam pikirannya. Seperti sebatang pohon di tengah padang pasir, ia tampak kokoh namun sepi di antara ramai lalu lalang kendaraan dan kehidupan kota yang serba cepat. Orang yang lewat mungkin melihatnya sekilas, membayangkan biasa saja, namun di balik ketenangannya, tersimpan suatu pesan yang mendalam.
Ada kalanya kita perlu menarik diri dari keramaian untuk memikirkan tujuan dan makna hidup. Pria ini mungkin sedang menganalisis langkah-langkah hidupnya: apakah ia sudah berada di jalur yang benar? Apakah segala jerih payah dan perjuangan yang ia lalui selama ini sudah mendekatinya pada impian yang ia cita-citakan? Atau justru, ia sedang mempertimbangkan jalan baru yang belum pernah ia tempuh sebelumnya?
Ketika hidup terasa santai dan tujuan tampak samar, dibutuhkan waktu sejenak untuk berhenti dan memikirkan adalah hal yang berharga. Hal yang sering terabaikan dalam kehidupan modern, di mana segala sesuatu harus serba cepat, produktif, dan terukur.Â
Namun pria ini, dengan duduk tenang di tepi jalan, mengingatkan kita bahwa ada kekuatan dalam kekuatan dan ketenangan.
Mungkin, di saat inilah pria itu menemukan dirinya yang sesungguhnya. Ia mungkin sadar bahwa kebahagiaan tidak selalu terletak pada pencapaian besar atau materi yang berlimpah, tetapi pada ketenangan hati. Dalam keheningan, ia mungkin menyadari bahwa ketenangan hanya bisa diraih ketika kita mampu menerima diri sendiri, dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
Melihatnya, kita diingatkan bahwa hidup tidak hanya sekedar mengejar kesuksesan, tetapi juga tentang menikmati proses, memikirkan apa yang telah dicapai, dan mempersiapkan diri untuk perjalanan selanjutnya. Terkadang, di tepi jalan yang sederhana itulah, kita justru menemukan arti hidup yang sesungguhnya.
Bagi kita yang kerap larut dalam ritme kehidupan yang melelahkan, pria ini menjadi simbol untuk berani berhenti sejenak, mengingat bahwa hidup bukanlah sekadar mengejar tujuan, melainkan perjalanan yang patut kita nikmati dan pahami.Â
Mungkin, seperti pria itu, kita hanya perlu duduk dan diam sejenak untuk mendengar suara hati, yang selama ini tenggelam di balik gangguan kota.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H