Setiap jaman ada orangnya, setiap orang ada jamannya. Maka, ketika sedang memimpin harus sadar, kepemimpinan terbatas, ada saat untuk kembali menjadi rakyat biasa. Memimpin harus adil, dan nyata. Tidak nyaman di menara gading. Tidak menjiwai para bawahannya.
Kepemimpinan perlu regenerasi. Menyiapkan para pengganti. Menjadi pemimpin perlu evaluasi diri terus menerus. Bukan karena senioritas atau urut kacang, tetapi memang adalah kualitas diri. Sehingga terpilih jadi pemimpin.
Bukanlah pemimpin jika tidak bisa menghasilkan para pengganti. Kader penerus masa depan organisasi. Pekerjaan teknis bisa diajarkan. Jejaring kontak diperkenalkan, bukan nya dihapus dari memori komputer.Â
Pemimpin harus selalu belajar. Memahami  orang per orang di organisasinya. Menguasai tugas pokok dan fungsi setiap elemen keorganisasian. Menciptakan budaya organisasi yang positif, yaitu yang mampu melejitkan berbagai potensi para staf.
Pemimpin sekarang tidak perlu banyak bicara. Tapi harus banyak kerja. Tapi tak salah, jika pemimpin banyak bicara, jikalau yang dibicarakan menginspirasi. Lidah dan tangan selaras. Tidak pernah berbohong. Bicara dari hati, bukan bicara karena menginginkan tekanan bagi yang mendengarkan. Pemimpin partisipatif, mampu mengerjakan apa yang dikerjakan oleh staf organisasi. Dari kerja teknis sampai kerja non teknis.
Kepemimpinan adalah ibadah. Membawa kebaikan untuk anggota lebih besar. Karena kebenaran tidak terorganisir akan kalah oleh kejahatan yang terorganisir. Jika kepemimpinan organisasi dilakukan dengan niat jahat, cara jahat, tujuan jahat. Maka akan merugikan citra dan nilai dasar keorganisasian.Â
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H