Upacara bendera adalah suatu hal yang paling dibenci sebagian siswa di sekolah Tiara Bangsa, tak terkecuali Nakula. Remaja dengan dandanan khas anak berandal tetapi berparas rupawan itu memiliki nama lengkap Nakula Pradikta. Namanya terpampang di mading sekolah dengan gelar "Si Paling Berandal".
Hari Senin identik dengan upacara bendera. Di saat itulah Nakula selalu memanjat pohon di belakang sekolah agar tidak perlu mengikuti upacara bendera yang kelewat membosankan itu. Namun, keberuntungan sedang tak berpihak padanya. Sahabat seperjuangannya yang menyandang gelar "Ketua OSIS" itu menangkap basah Nakula yang sedang memanjat.
"Ayolah Asa, sahabatku tersayang. Hari ini aku ingin bolos upacara, sekali saja, ya?" mohon Nakula.
Asa dengan suara tegasnya segera menolak permohonan Nakula, "Kamu sudah tiga kali ketahuan bolos upacara, sekarang tidak ada lagi kata bolos. Ayo ikut aku pergi ke ruang BK."
Dengan perasaan jengkel sekaligus pasrah, Nakula pun mengikuti Asa pergi.
"Ih jahat banget kamu jadi sahabat!"
Duk
"Aduh, Asa! Yang benar dong kalau jalan! Dahiku sakit nih!" kesal Nakula. Ia pun mengintip apa yang dilakukan Asa hingga ia berhenti mendadak.
Terdapat satu cewek di sana. Mata Asa begitu berbinar menatap presensi cewek itu.
Raut Nakula pun menjadi masam, dahinya sakit hanya karena Asa yang terpesona, sangat menyebalkan baginya.
"Pandangannya dijaga ya, Kak Asa," sindir Nakula.