Mohon tunggu...
Tri Sapta Mw
Tri Sapta Mw Mohon Tunggu... Freelancer - Menulis untuk menambah pengetahuan. Amunisi menulis adalah membaca.

Bekerja di Sekolah Tetum Bunaya Cipedak Jagakarsa Jakarta Selatan

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

[FFA] Aku, Peternak Ayam

20 Oktober 2013   23:49 Diperbarui: 24 Juni 2015   06:15 118
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Nomor 343.
Hujan deras mengguyur seluruh badan. Tak peduli. Hanya satu yang aku ingat ini jam makan ayam-ayam. Abah sudah berpesan beri makan dan minum ayam setelah pulang sekolah. Abah ada rapat di DPRD Tapin Kalimantan Selatan.
Aku mulai masuk ke dalam kandang ayam broiler mengambil tempat minum. Ayam-ayam pedaging itu tidak dikurung satu-satu namun bebas berkeliaran dalam satu kandang. Jangan ditanya bagaimana aromanya. Karena sudah terbiasa. Aku tidak menggubris karena sayang dengan mereka dan ingin menolong abah.
Ayam-ayam bercuap. Mereka tergolong jinak tidak seperti ayam kampung. Tak sedikitpun jijik. Aku ambil tempat bulat tersebut. Berjalan ke pintu lain. Kembali mengambil. Sudah terkumpul banyak.
“Duprak. Duprak,” suara sepatu boot Abah yang aku pakai beradu dengan air hujan yang mulai menggenang. Kebesaran memang, tetapi tidak mengganggu aktivitas. Aku suka sensasi suara boot.
Tanganku memegang beberapa buah tempat minum air ayam. Ku letakkan dekat ember. Kini aku mulai memompa. Tahun 1980 kami belum punya mesin air. Tidak ada tekan tombol saklar lalu kemudian keluar air di kran. Kalau ingin ada air harus memompa dulu.
Antara jari dan telapak tanganku mengeras karena sering memompa air. Selain mengisi air minum ayam aku juga bertugas mengisi bak mandi. Berpuluh kali baru penuh. Sekitar seratus langkah baru sampai dari tempat memompa ke kamar mandi.

Aku sering bermain-main dengan pompa air. Badanku belum begitu tinggi. Ganggang pompa aku angkat tinggi lalu aku melompat menurunkan pompa tersebut sambil berayun-ayun. Tak terasa ember sudah penuh.

Tempat minum mulai aku buka satu per satu. Aku cari sabut kelapa. Tempat minum aku bersihkan. Walau ayam binatang, juga harus dijaga kesehatannya. Jangan sampai berjamur. Biasanya kalau kelamaan tidak dicuci ada lumut berwarna hijau.

Sudah selesai dicuci semua. Menggunakan gayung tempat minum mulai terisi dengan air. Tangan kecilku, anak kelas 4 SD mampu membalik. Jangan tempat minum ayam. Ember yang besar saja aku mampu mengangkat.

Dua buah tempat minum sudah ada di tangan kiri dan kanan. Aku letakkan depan pintu. Kubuka engsel.
Ayam mulai berteriak girang, “petok. Petok.” He he seperti tahu bahasa ayam saja.
Bergaul dengan mereka lama kelamaan tahu bagaimana mereka gembira dan tidak.

Satu tempat minum kuletakkan di tengah. Sambil mengeluarkan tempat makan ayam. Selanjutnya tempat minum yang lain aku perlakukan sama. Kini tanganku menenteng tempat makan ayam. Sudah lama aku tak membersihkan. Kalau adik laki-lakiku mungkin akan ‘owek’ karena belepotan dengan kotoran ayam.
Kembali ember aku penuhi dengan air. Untung saja hujan sudah berhenti. Hujan hari ini tak sempat menari dan bermain hujan. Aku suka menari berputar sambil membentangkan tangan dibawah hujan. Tak apalah pasti hari-hari yang akan datang ada hujan lagi. Aku dengar riuh canda adik-adikku masuk kamar mandi. Dua adik laki-laki baru selesai bermain hujan. Mereka mandi di bawah talang air.

Oh ya ibuku seorang bidan. Sekarang beliau sedang tidak ada di rumah. Karena sedang menolong orang melahirkan di rumahnya. Kami tidak dimarahi bermain hujan. Dulu hujan tidak seperti sekarang. Hujan tidak membuat sakit kepala. Sekarang air hujan di perkotaan atau sekitar pabrik sudah tercampur dengan polusi.

Selesai tempat makanan aku bersihkan. Aku lap dengan kain. Seperti air minum aku tempat makan depan pintu kandang ayam. Kini aku berjalan ke tempat penyimpanan makanan ayam. Seingat aku merknya Bama. Aku membuka karung. Uhk. Batuk. Tak sengaja menghirup debu pakan tersebut.

Pakan ini seperti sedotan kecilnya, namun pendek. Aromanya, jangan ditanya. Aku tidak tahu berasal dari apa. Barangkali jagung yang digiling dicampur dengan dedak. Satu ember sudah terisi.

Tugas berikutnya memasukan tempat pakan kedalam kandang. Meletakkan disamping tempat minum. Aku mengambil sekop kecil. Memasukkan pakan. Ayam-ayam mulai bergerombol. Berebut.
“Auu. Tanganku terkena patokan ayam. Sudah lapar?” aku bicara pada mereka seolah mengerti saja.

Selesai sudah tugas hari ini. Kecapekan. Melap keringat. Garuk-garuk tangan. Kata orang Banjar, miang. Artinya gatal akibat terkena debu. Biasanya kalau dekat-dekat binatang unggas.

“Hayoo. Melamun.” Suara Abah mengagetkan.

“Ih, Abah. Reflek aku tinju beliau. Karena aku ikut eskul silat Sering beliau jadi lawan tadingku. Walau aku perempuan aku dididik sama dengan adik laki-lakiku. Curangnya mereka tidak diajari memasak. Aku juga harus bisa mengerjakan pekerjaan perempuan.

Beliau menangkis. Kini tendangan T ku arahkan pada beliau.
“Cukup,” suara wibawa beliau menghentikan seranganku.
“Bagaimana, hari ini ayam ada yang mati lagi?” Ada nada khawatir pada suara itu.
“Iya, Bah.” Terasa sedih pada jawabanku. Semenjak Abah, menjadi anggota DPRD, ayam tidak terawat dengan baik. Aku membantu abah semampuku. Tak bisa menyuntik ayam. Beberapa hari ini ada beberapa ayam mati. Sekarang musim hujan. Ayam perlu dihangatkan. Sayang listrik hanya ada di malam hari. Mereka juga perlu diperlakukan khusus dengan pemberian vitamin, pikirku, si bocah anak SD.
“Ayo sekarang kita pilih ayam yang pilek,” ajak Abah.
Dengan sigap aku mulai mencari ayam yang meler. Menangkap kakinya. Hup. Ayam yang tak terlalu besar ini kepalanya sudah di bawah. Abah sudah menyiapkan suntikan. Dalam injeksi tersebut sudah terisi cairan. Entah apa isinya. Barangkali obat pilek. Aku berpikir sok tahu.
“Pegang kuat-kuat!”
“Jangan khawatir Bah. Walau aku baru masuk silat kan sudah sering berlatih memukul pohon pisang. Lihat nih kepalan tanganku.”

“Iya, Abah percaya.”
Ayam petok-petok kesakitan. Seperti anak-anak imunisasi saja. Menangis. Aku terbiasa mendengar suara ibuku menyuntik anak kecil. Karena di rumah juga membuka praktek.
Beberapa ekor ayam sudah di suntik. Mereka dipisahkan pada kandang khusus. Aku elus mereka.
“Sehat ya ayam.” Aku teringat nenek berkata pada aku dan adik-adik. Makan itu harus dihabiskan nanti ayamnya mati.
Kami menjawab sekenanya,” Enak Nini (Bahasa Banjar: Nenek) makan ayam tiap hari. Kini aku sedih. Karena walau makan ayam tiap hari, Abah tidak bisa menjual ayam yang sakit. Tentunya tidak jadi punya uang.
Begitulah akhirnya ayam peliharaanku dan Abah lama kelamaan habis. Abah semakin sibuk dengan pekerjaannya. Walau begitu aku banyak mendapat pelajaran yang banyak dari tanggung jawab yang diberikan Abah. Waktu yang tak pernah berputar. Manfaatkan masa kecil dengan banyak belajar dari pengalaman sehari-hari. Kelak dewasa nanti akan banyak hikmah yang dipetik.

Untuk membaca karya peserta lain silakan menuju akun Fiksiana Community dengan judul: Inilah Hasil Karya Festival Fiksi Anak!
Silakan bergabung di group FB Fiksiana Community.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun