Cuitan Ernest Prakasa kemarin, 25/8, di akun Twitter-nya kontan menuai beragam reaksi dari warganet. Komedian itu mengecam Partai Solidaritas Indonesia, selanjutnya  saya singkat PSI, yang mengajukan Giring selaku calon presiden.
Koh Ernest kecewa. Ia layaknya orang yang jatuh cinta kemudian patah hati tiada terkira.
Selama ini saya secara terbuka menyatakan simpati terhadap perjuangan rekan-rekan di PSI, mengamini niat mereka untuk memperbaiki iklim perpolitikan di Indonesia. Pencalonan Giring sebagai Capres, apa pun motifnya, telah mengakhiri simpati itu. ~ Ernest Prakasa
Tentu saja kita semua tahu bagaimana rasanya kecewa. Kita pasti maklum betapa memilukan saat simpati yang tumbuh beranak pinak di hati mendadak diterjang kemarau berkepanjangan.
Ernest tidak tanggung-tanggung dalam menumpahkan kekecewaannya. Beberapa cuitan akun PSI yang mengasongkan soal pencalonan Giring langsung ia embat. Tarikan gasnya juga variatif. Ada yang agak kencang, ada yang sangat kencang. Pendek kata, ngegas!
Saya bisa menerima sikap skeptis Ernest yang disampaikan secara terang-terangan. Tidak sedikit orang di Nusantara yang hilang simpati pada politisi akibat perilaku sendiri. PSI muncul dengan usungan suasana baru yang menjanjikan dan menyegarkan. Begitu awal mulanya.
Pada sisi lain, ada satu hal yang sepertinya sengaja diabaikan oleh Ernest. Semua warga negara Indonesia berhak untuk diajukan atau mengajukan diri sebagai calon presiden.
Pada sisi lain, seluruh kader PSI, termasuk Giring, mesti menyadari bahwa kebebasan semua orang untuk berpendapat dilindungi oleh konstitusi.
Hak kebebasan berpendapat itu diatur dalam Pasal 28E ayat (3) UUD 1945 yang berbunyi, "Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat." Jadi, Ernest yang mual-mual boleh memuntahkan isi hatinya.
Volodymyr Zelensky, Pelawak yang Terpilih sebagai Presiden Ukraina
Koh Ernest sempat mempertanyakan kapasitas dan pengalaman politik Giring untuk diajukan sebagai calon. Pertanyaan yang jelas berkelindan di dalam benak banyak orang.Â
Bedanya, komedian itu berani mengicaukan risau hatinya. Ia tidak mau makan hati sendiri atau makan di dalam seperti kebanyakan orang yang demam misuh-misuh, menggerutu, dan menggunjing.
Tidak. Kapasitas dan pengalaman politik suatu ketika bisa ditepis oleh konstituen sebagai alat ukur dalam memilih seseorang menjadi pemimpin. Ada orang yang memilih karena sok kenal; ada yang terpikat paras; ada yang bergantung pada berapa lembar uang kertas terselip di dalam amplop; ada yang bertumpu pada alasan "asal pilih".
Jumlah pemilih yang memilih kandidat karena memang layak dan patut dipilih sungguh amat terbatas. Pemilih rasional dan cerdas masih belum banyak. Tidak heran jika kualitas pemimpin, entah eksekutif entah legislatif, dari pemilu ke pemilu masih begitu-begitu saja. Itu di negara kita.