Sapardi Djoko Damono. Beliau pergi setelah hujan bulan Juni. Pergi selama-lamanya. Pergi tidak untuk kembali pada suatu hari nanti, tetapi puisi-puisi beliau tidak pernah pergi. Puisinya abadi. Sepanjang masa. Selamat jalan, Sapardi.
Guru yang rendah hati itu benar-benar pergi. Beliau mengembuskan napas terakhir hari ini, pukul 09.17 WIB, di sebuah rumah sakit di bilangan BSD setelah sebelumnya ditengarai fungsi organ beliau menurun.
Pada satu pertemuan di FIB Universitas Indonesia, beliau berkata kepada saya, "Tidak usah jauh-jauh mencari ilham. Tubuhmu adalah puisi." Sederhana. Namun, pesan itu terus mendekam dalam ingatan saya.
Pesan beliau menuntun mata kaki dan mata hati saya dalam pencarian kearifan dan kebijaksanaan. Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni. Begitu kata beliau. Mengapa hujan bulan Juni begitu arif? Sebab, dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu.
Memang tidak perlu jauh-jauh mencari kebahagiaan, sebab kebahagiaan itu ada di dalam diri kita sendiri. Kita biarkan saja akar ketabahan dalam diri kita menyerap segala hal, entah musibah entah anugerah, tanpa mempertanyakan kepada Tuhan mengapa mesti ada bencana dan kenapa bukan tawa bahagia saja sepanjang hidup.
Kini beliau telah menemukan dirinya yang abadi. Ada yang berdenyut dalam diriku, menembus tanah basah. Begitu ungkap beliau dalam sajak "Kuhentikan Hujan". Ia toleh hatinya. Ia tengok dadanya. Di situ ada sesuatu. Dendam yang dihamilkan hujan dan cahaya matahari.Â
Kakak Soetjipto Djoko Sasono itu tidak sedang mengeluh. Ia tengah menyodorkan kitab tabah kepada kita. Kitab yang berisi tata cara menata dendam. Mestinya semarah apa pun kita tidak membiarkan dendam terus berdenyut di dalam dada, diasuh siang malam, dan beranak pinak hingga menjadi kesumat. Keluarkan dendam itu, lalu kita benamkan di bagian tanah yang terdalam.
Bagaimanakah kita hari ini mengelola dendam? Semua kita lampiaskan ke ruang publik. Ada yang menumpah-ruahkan kemarahannya di media sosial, ada yang menuang-luapkan bencinya di media massa. Semua orang akhirnya dapat dengan mudah mengenali orang lain dari takar dan kadar amarahnya, bukan dari jejak kiprah dan karyanya.
Bahkan ada pula orang yang menanam dendam di atas tanah cinta yang subur. Atas nama cinta pada seseorang atau sesuatu, seorang manusia bisa dengan mudah menebar caci maki. Tanpa saringan, tanpa berpikir panjang. Seolah-olah seluruh hidupnya akan dihabiskan semata-mata bersama kerak benci.
Mencintai angin harus menjadi siut, babar penggemar wayang yang semasa kecil sering menerima hadiah berupa wayang dari kakeknya. Dalam sajak "Aku Ingin", beliau hendak mengingatkan kita bagaimana semestinya mencintai. Ya, mencintai air harus menjadi ricik. Itu satu pelajaran berharga tentang lentur dan lembut atau baur dan lebur.
Beban kegelisahan dan kecemasan yang melatari kelahiran puisi-puisi Guru Besar FIB Universitas Indonesia itu malah tepat dikait-pautkan dengan kondisi hari ini. Hari ini, cinta kita pada satu pihak menyulut benci pada pihak seberang. Saat ini, cinta kita pada satu golongan melecut benci kita pada golongan sebelah.
Jiwa keindonesiaan kita terbelah. Ah, itu terlalu perih. Kita perhalus saja menjadi "jiwa keindonesiaan kita tengah retak". Retak di mana-mana. Kita semua sadar bahwa beragam itu niscaya, tetapi kita perlahan-lahan lupa bersatu sebagai Indonesia. Tidak ada yang paling Indonesia, sebagaimana tidak ada pula yang kurang Indonesia.