Mohon tunggu...
Blasius Mengkaka
Blasius Mengkaka Mohon Tunggu... Guru - Guru.

Alumnus Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) di Universitas Negeri Nusa Cendana Kupang Tahun 2008. (1). Pemenang Topik Pilihan Kolaborasi "Era Kolonial: Pengalaman Mahal untuk Indonesia yang Lebih Kuat", (2). A Winner of Class Miting Content Competition for Teachers Period July-September 2022. (3). The 3rd Winner of Expat. Roasters Giveaway 2024. Wa: +6281337701262.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Pemilu 2024: Pemilu Proporsional Terbuka Sudah Mendekati Ideal, Tetapi Tidak Benar-Benar Ideal

8 Januari 2023   11:12 Diperbarui: 8 Januari 2023   22:26 303
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi kotak suara (Sumber gambar: id.pngtree.com).

Wacana mengenai sistem Pemilu manakah yang akan digunakan di Pemilu 2024 amat menarik untuk dikaji. Wacana itu merujuk kepada pilihan disertai dengan alasan-alasannya. Dengan  demikian, wacana mengenai Pemilu legislatif proporsional tertutup, Pemilu legislatif proporsional terbuka dan Pemilu legislatif distrik masih menghangat. Dalam sejarah demokrasinya, bangsa Indonesia sudah melaksanakan sistem Pemilu proporsional tertutup pada zaman Orde Baru dan sistem Pemilu proporsional terbuka pada zaman reformasi. Sistem Pemilu legislatif distrik belum pernah dilaksanakan di Indonesia. Sampai saat ini Pemilu legislatif porposional terbuka sudah dianggap dapat mendekati sistem Pemilu ideal di Indonesia, sejalan dengan semangat reformasi.

Pemilu Legislatif Proposional Tertutup 

Dalam sistem Pemilu legislatif tertutup, Presiden dan Wakil Presiden tidak dipilih langsung oleh rakyat, tetapi dipilih oleh MPR. Jika kita mempraktekkan sistem Pemilu ini di Pemilu 2024 nanti, kita akan pulang kembali ke masa Orde Baru. Berbeda dengan Pemilu di zaman Orde Baru yang hanya punya 2 parpol dan 1 Golkar, Pemilu proposional legislatif tertutup berpeluang untuk memunculkan banyak parpol. Calon-calon legislatif pusat dan daerah ditunjuk oleh parpol. Para calon berkampanye untuk parpol, bukan untuk dirinya.  

Pemilu legislatif tertutup berbahaya bagi perdamaian di Indonesia. Pemilu legislatif proporsional tertutup sudah terjadi di Myanmar. Pada tahun 2012, ada 93 parpol yang ikut Pemilu di Myanmar. Kelemahan sistem ini adalah suara-suara kaum minoritas tidak bisa diakomodir dan militer gampang melakukan kudeta.

Parpol-parpol besar akan menunjukan wakil-wakil  sesuai keinginan sendiri untuk duduk di DPR, DPRD I dan DPRD II, sehingga ada bahaya bahwa parpol besar akan menunjuk wakil-wakilnya sendiri sesuka hati tanpa mengikuti kemauan rakyat daerah.  Misalnya daerah-daerah dengan mayoritas kristen, tidak selalu dijamin untuk punya wakil-wakil beragama kristen di daerah dan pusat karena wakil-wakil rakyat ditentukan parpol-parpol. Jadi sistem Pemilu legislatif proporsional tertutup cukup berbahaya bagi persatuan dan kesatuan bangsa. 

Pemilu Legislatif Distrik

Pemilu proposional distrik cukup berbahaya bagi bangsa Indonesia. Sebab dengan sistem ini, setiap suku bangsa punya partai politik masing-masing, jadi jumlah parpol sesuai dengan jumlah etnis di Indonesia. Etnis-etnis adalah sumber kekuatan utama parlemen nasional dan daerah. Parlemen (DPR, DPRD I dan DPRD II) berbentuk parlemen etnis. Etnis mayoritas akan berkuasa terhadap etnis minoritas. Di tingkat pusat, etnis mayoritas memiliki lebih banyak wakil di DPR. Makin banyak jumlah anggota suatu etnis, makin banyak wakil mereka duduk di DPR, DPRD I dan DPRD II.

Sistem Pemilu yang Mendekati Ideal

Perhitungan dalam Pemilu tidak sama dengan perhitungan dalam ilmu Matematika. Matematika adalah perhitungan dengan angka dan hasilnya pasti. Pemilu punya perhitungan berbeda dan pertimbangan yang tidak mengikuti ilmu Matematika. Sehingga bagi saya, 3 sistem Pemilu proposional di atas, semuanya tidak ideal dan tidak sempurna. Tetapi hanya satu yang dapat mendekati sistem Pemilu ideal. 

Dalam Pemilu, para pemilih lebih mudah dan lebih tertarik memilih orang/manusia daripada memilih Partai. Politik adalah menyangkut sistem, norma dan lembaga, dan melampaui program elektoral partai. Selain itu, politik juga melampaui partai politik. Selama ini rakyat beranggapan bahwa hasil Pemilu amat tergantung pada para calon legislatif, bukan pada parpolnya. Sehingga para Parpol selalu bersaing untuk merekrut para calon legislatif paling top agar dapat meraih suara di Pemilu. Selain pertimbangan para calon legislatif, Pemilu juga mempertimbangkan kondisi lingkungan hidup dan bahaya perang. 

Dalam politik Pemilu, ilmu Matematika tidak bisa digunakan untk menentukan dengan pasti pemilihan. Tetapi ilmu Matematika dapat menolong dalam hal penyusunan peringkat-peringkat prioritas pemilihan. Dalam hal ini, setiap pemilih perlu membuat peringkat-peringkat sebagai prioritas dalam pilihannya sendiri. Peringkat-peringkat prioritas ini dapat menyertakan perhitungan Matematika.

Dalam rencana pemilihan, seorang pemilih biasanya akan mengeliminasi orang atau partai yang tidak punya peluang besar untuk menang. Sebaliknya pemilih mementingkan orang atau partai yang punya kesempatan menang lebih besar. Katakan saja peringkat pertama adalah orang atau partai yang punya perluang paling besar menang atau meraih banyak suara di Pemilu. 

Proses eliminasi orang atau partai membuat hanya tertinggal 1 atau 2 orang atau partai saja sebagai prioritas untuk dipilih pada saatnya. Peringkat pertama  adalah prioritas pertama dalam pemilihan, biasanya peringkat pertama punya kesempatan menang Pemilu lebih besar.  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun