Konsentrasi Elona goyah. Lampu sorot pada layar screen projector terlihat garis cahaya penuh kepulan partikel debu halus.
Perut terasa mual dan ngilu. Dliriknya logo massages pada iPhone, belum juga ada tanda teks masuk.
‘’Bulan depan kita mulai modul 3 tipe 3,’’ field manager menutup meeting.
Secepat kilat disambarnya buku agenda, tas, laptop dan iPhone. Sambil menuruni anak tangga menuju lobi kantor di bawah Elona mencoba menelpon Sem anak sulungnya.
‘’Sem, tolong beri makan Lizzy ya, mama agak telat pulang’’Â
‘’Yup, jangan lupa beli kentang goreng ma’’
‘’Sip, pakai mayones?’’
‘’Soal Cleo, biar mama sendiri yang bawa dia keluar’’
Ah, dasar anjing. Oma memang kasih kerjaan, bukan beri kado boneka Barbie malah anak anjing untuk Lizzy. Cleo cuma lucu ketika masih puppy. Gendong sana, peluk sini. Hari-hari Cleo menjadi boneka hidup. Kini, Cleo berusia satu setengah tahun, banyak tidur dan malas. Senja begini minta pada Sem untuk jalan-jalan dengan Cleo, ah belum berani Elona minta. Sem masih terlalu muda.Â
Sebelum keluar gedung, seorang kolega melambaikan tangan padanya.
‘’Jangan lupa acara sabtu, barbecue-an!’’ serunya.Â