Mohon tunggu...
Wiwien Wintarto
Wiwien Wintarto Mohon Tunggu... Penulis - Penulis serba ada

Penulis, sejauh ini telah menerbitkan 29 judul buku, 17 di antaranya adalah novel, terutama di PT Gramedia Pustaka Utama. Yang terbaru adalah novel Elang Menoreh: Perjalanan Purwa Kala (terbit 1 November 2018) terbitan Metamind, imprint fiksi dewasa PT Tiga Serangkai.

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

"Game of Thrones", Titik Kulminasi Sinetron

16 Juni 2019   18:11 Diperbarui: 16 Juni 2019   19:21 1322
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Emilia Clarke sebagai Daenerys Targaryen dalam "Game of Thrones" (Foto: HBO via New Statesman)

Setelah menyaksikan keseluruhan 73 episode dalam delapan musim penayangannya, saya bisa dengan yakin mendeklarasikan bahwa Game of Thrones (GoT) adalah titik kulminasi pencapaian umat manusia planet Bumi dalam hal membuat sinetron. 

Pasalnya, nilai kepalingtinggian terdapat dalam semua segi. Hal mana belum pernah dicapai oleh judul serial atau film televisi mana pun, dari belahan dunia mana pun.

Penyutradaraan? Penulisan? What so-called "bahasa gambar"? Tata busana? Hunting lokasi? Kemampuan casting director? Proses syuting? Akting para pemain? Petugas perlengkapan dan dekorasi? Teknik animasi digital? Semua oke. 

Bahkan andai hendak membahas juga soal metafora dan simbolisme lengkap dengan segala centang perentang ulasan akademik soal teori-teori filsafat Barthez, eh... Barthes, simulakra Baudrillard, Descartes, atau Derrida, semua masih akan tetap masuk juga.

Betewe, saya harus memakai kata "sinetron" di sini untuk memberi gambaran pemahaman yang jelas, bahwa sebagai sebuah serial TV (dan bukan film layar lebar di bioskop), GoT memang merupakan ekuivalen Cinta yang Hilang atau Tukang Ojek Pengkolan di kita, serta juga Cheese in the Trap atau Descendants of the Sun di Korea Selatan.

Secara umum, topik pembahasan cerita GoT adalah mengenai konflik dan intrik politik yang melibatkan para trah ("trah", atau "wangsa", adalah terjemahan yang paling pas untuk kata "house") besar penguasa negeri Westeros. Yang dijadikan protagonis adalah Trah Stark, penguasa negeri Winterfell yang dingin di utara. Mereka bermusuhan dengan Trah Lannister, penguasa negeri Casterly Rock yang tengah berkuasa di titik terpenting Westeros, yaitu King's Landing.

Cerita musim pertama dibuka dengan kedatangan penguasa Tahta Besi King's Landing, Raja Robert Baratheon (Mark Addy), mengunjungi sahabat lamanya, Adipati Eddard "Ned" Stark (Sean Bean) penguasa Winterfell, untuk diajak ke ibu kota guna diangkat menjadi Tangan Kanan Raja---semacam perdana menteri merangkap penasihat (seperti Zhuge Liang untuk Liu Bei di kisah Romance of Three Kingdoms).

Dari situ, kisah berkembang meluas meliar menjadi sebuah saga besar yang melibatkan luar biasa banyak karakter. Ada Daenerys Targaryen (Emilia Clarke) di seberang lautan sana yang ingin kembali menguasai Tahta Besi, si anak haram Jon Snow (Kit Harrington) yang menjumpai takdir lebih kuat dari keinginan, Sansa Stark (Sophie Turner) yang "terpaksa" jadi orang kuat karena tempaan kehidupan, juga si kerdil Tyrion Lannister (Peter Dinklage) yang mengajarkan pada kita bahwa di dunia yang keras, "ilmu silat" saja tak pernah cukup untuk mengalahkan dunia.

GoT kali pertama mengudara di jaringan TV kabel HBO pada 17 April 2011. Normalnya serial buatan Hollywood, ia diputar berdasar season (musim)---dengan satu musim berada pada satu tahun kalender. Hingga 2016, tiap musim terdiri hanya atas 10 episode. 

Pada musim ketujuh yang main tahun 2017, jumlah episode menyusut menjadi delapan. Lalu, pada musim kedelapan dengan jadwal penayangan mundur setahun (2019 ini, seharusnya 2018), episode mengkerut lagi jadi hanya enam. Episode pamungkas alias series finale, berjudul The Iron Throne, tayang tanggal 19 Mei 2019 lalu.

Serial ini diangkat dari A Song of Ice and Fire, serial novel epik fantasi karya George RR Martin. Buku pertama serial tersebut, A Game of Thrones, kemudian dijadikan judul serial, yang secara persis menggambarkan apa yang terjadi pada keseluruhan cerita (dan juga semua kompetisi politik era demokrasi, termasuk yang sekarang tengah asyik kita ributkan di Indonesia saat ini!). 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun