Mohon tunggu...
Kadek Suandewi Suandewi
Kadek Suandewi Suandewi Mohon Tunggu... -

Kehidupan adalah perjalanan. Banyak cerita yang bisa dikisahkan dalam Tulisan. Mengabadikan Cerita dalam tulisan adalah "mengawetkannya" dalam tungku perapian kehidupan dari zaman ke zaman

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Mahabharata Ajaran Hindu yang Hidup dan Universal

28 Agustus 2013   18:29 Diperbarui: 24 Juni 2015   08:41 797
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

Weda adalah kitab suci agama Hindu. Weda berasal dari kata widya yang artinya pengetahuan. Weda sering disebut samudra pengetahuan. Bukan hanya untuk umat hindu semata tetapi secara lebih luas adalah umat manusia dan semua mahluk. Weda sendiri terdiri dari 4 kelompok besar yaitu sama weda , reg weda, antharwa weda dan yayur weda. Setiap bagian catur weda ini mempunyai kekhususan misalnya yayur weda untuk pengobatan, sama weda untuk puji-pujian. Bahasa weda sangat tinggi dengan kiasan dan majas yang oleh orang biasa agak susah dimengerti secara iplementasi dalam kehidupan . Weda yang termasuk Sruti atau wahyu Tuhan secara langsung oleh Resi Agung Weda Wyasa dikelompokkan menjadi 4. Selain Weda sebagai sruti wahyu Tuhan secara langsung, agama Hindu juga mengenal kitab smerti. Kitab smerti adalah kitab agama Hindu berasal dari tradisi yang diingat. Smerti ada dua macam yaitu wedangga dan Upaweda . Wedangga bisa dicontohkan seperti mantra, yadnya dan astronomi sedangkan Upaweda bisa berupa epos, kisah kuno, kesehatan dan ilmu seni. Resi Agung Wyasa menyusun Epos besar Mahbharata dan Walmiki menyusun Ramayana. Dua epos ini sangat terkenal diseluruh dunia tidak terbatas kalangan agama Hindu tetapi telah menyusupi kebudayaan seluruh antero dunia. Kita bisa lihat Wayang di Jawa dengan lakon Mahbharata dengan berbagai versi dan penambahan karakter. peristiwa dan tokoh.

Sesungguhnya Epos Mahbharata adalah adalah weda smerti yakni Upaweda dengan cerita yang hidup. Cerita yang hidup maksudnya Mahbharata memuat karakter, tokoh, peristiwa dan  filsafat yang hidup yang mudah dimengerti. Disajikan dalam berbagai bentuk seni misalnya drama, wayang, kekawin, film maupun cerita bergambar.  Pengembangan Mahabarata sebagai karya seni agung dii nprovisasi dalam berbagai bentuk, baik tokoh, karakter dan lainnya. Contohnya dalam pertunjukan wayang bisa muncul tokoh semar, tualen merdah dan sejenisnya padahal dalam karya seni asli tokoh ini tidak ada. Hal ini lebih sebagai bentuk penembangan sang dalang atau sutradaranya. Keluwesan agama Hindu dan Mahbharata sebagai salah satu karya sastra Hindu melingkupi pikiran umat manusia tanpa terkecuali. Ini dapat kita lihat ketika orang berbicara Arjuna pasti orang terpikir seorang yang tampan dan pintar memamanah. Demikian pula Bima sebagai sosok yang kuat apabila kita menyebutnya. Sebaliknya apabila orang dipanggil seperti Sakuni orang pasti langsung terpikir sebagai tokoh yang licik dan culas. Sehingga dapat disimpulkan Mahbharata bisa dijadikan teladan bagi tokoh yang patut diteladani. Sebut saja Karna yang bernama kecil Radheya dia adalah sosok sahabat sejati. Salya symbol penghianatan. Yudhistira adalah lambang Dharma, Bhisma symbol Nasionalisme dan bakti ke orang tua. Widura adalah ahli tata Negara. Sri Krisna sais kereta Arjuna kereta sebagai wujud personal Tuhan yang menurunkan Bhagawan gita sehingga kita berharap sebagai manusia selalu mendapat tuntunan Nya seperti ia menuntun kereta Arjuna. Nah saking terkenal Mahbharata banyak orang tua yang menamai anak-anaknya seperti tokoh-tokoh Mahabharata seprti Arjuna, Bima dan lain-lain. Demikian juga karya sastra seperti novel Arjuna mencari cinta. Tidak ada maksud membanding-bandingkan Mahabharata, apalagi merendahkannya. Lebih pada  Mahabharata sebagai bentuk Upaweda yang  menginspirasi, meneladani dan sebagai pegangan hidup. Demikian pula terkait Pilkada Klungkung 2013, tidak ada maksud merendahkan dan tidak menjujungnya sebagai epos besar. Malah karena menghargainya sebagai salah satu kitab smerti Hindu kita terinspirasi dan meneladani yang baik pada tokoh dan peristiwanya dan tidak meniru yang jahat dicerita tersebut. Kita tidak mau seperti Duyodana, kita juga tidak mau licik seperti Sakuni. Kita pun tidak mau sebagai orang yang beragama eksklusif terhadap  Mahabharata yang tidak bisa diutak atik karena Sang Hyang Weda saja menyebut untuk semua mahluk bukan untuk umat Hindu. Makanya dapat disimpulkan    Mahbharata adalaha ajaran Hindu yang hidup dan universal, janganlah kita sebagai orang yang Beragama Hindu yang notabena yang meyakininya berpikiran sempit dan picik.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun