[caption id="attachment_359910" align="aligncenter" width="300" caption="Jururawat PMI Tempo Dulu (kredit foto http://www.jakarta.go.id/)"][/caption]
Sejak berdirinya pada 17 September 1945-sebulan sesudah proklamasi- Palang Merah Indonesia (PMI) memainkan peran yang tak kalah pentingnya dalam perjuangan kemerdekaan. Berdirinya PMI sejalan dengan kemerdekaan mengingat upaya pendiriannya sudah dilakukan semenjak masa Hindia Belanda.Penjajah Belanda memang merupakan slaah satu negera yang pertama menandatangai Konvensi Genewa.Pada 1867 Belanda membentuk Nederlandsch Roode Kruise.
Tiga tahun kemudian di Hindia Belanda didirikan Nederlandsch Roode Kruise afdeeling Indie atau disingkat NERKAI.Tak banyak catatan yang saya temukan apa yang dilakukan NERKAI. Badan ini terlibat dalam berbagai perang colonial.Di antaranya NERKAI membentuk kolone ambulan untuk mengangkut orang luka dalam Perang Aceh yang banyak terjadi di pedalaman, daerah berhutan.
Perhatian orang Indoensia muncul pada 1938 ketika dr.Bahder Djohan, dokter lulusan STOVIA mengajukan gagasan pada Pemerintah Hindia Belandauntuk membentuk organisasi palang merah kelompok pribumi. Dia didukung , dokter pribumi lainnya bernama dr. Senduk. Proposal mereka ditolakkarena khawatir kalau disalahgunakan oleh pribumi yang waktu itu gerakan nasionalnya menguat. Pada 1940 gagasan ini diajukan lagi-Perang Dunia ke II sudah meletus- kembali ditolak dengan alsan pribumi tidak mengenal apa yang disebut peri kemanusiaan.
Pada 3 September 1945 Presiden Soekarno memberikan perhatian terhadap perlunya badan palang merah yang dijalankan orang Indonesia.Untuk itu dr. Boentaran Martoatmodjo sebagai Menteri Kesehatan mendpaatkan perintah.Pada 8 September 1945 dia menunjuk sebuah panitya yang diketuai dr. Mochtar dan penulis yang terdiri dari dr. Bahder Djohan, dr. Sitanala, dr. Djoemana, serta dr. Marzuki. Pada 17 Septemebr 1945 tugas mereka selesai, terpilih sebagai Ketua Umum drs. Mohammad Hatta dan Ketua Harian dr.Boentaran Martoadmodjo,
Dalam tulisan ini saya melihat paling tidak ada dua hal penting yang dilakukan PMI pada awal perang kemerdekaan. Pertama, PMI berupaya memulangkan orang Indonesia yang hilang di luar negeri selama pendudukan Jepang. Kedua, PMI membantu menyalurkan bantuan dari berbagai negara yang memberikan bantuan bagi rakyat Indonesia yang menderita akibat pertempuran yang terjadi.Dua peran ini begitu mengesankan karena menjadi aspek internasional dalam mengkaji sejarah Perang Kemerdekaan Indonesia, yang selama ini banyak disorot hanya dari aspek politik (termasuk diplomasi) dan aspek militer. Tentunya juga besar peran PMI dalam pertempuran, tetapi tdiak saya bahas dalam tulisan ini.
Pendudukan Jepang sejumlah orang Indonesia yang menjadi romuhsa, Heiho, pelaut hingga perempuan yang dijadikan penghibur di luar negeri tidak kembali hingga kemerdekaan diproklamirkan. Diperkirakan lebih dari 250 ribu orang dibawa pemeirntah pendudukan Jepang.PMI melacak jejak mereka dan hanya menemukansekitar 29 ribu saja atau hanya sekitar 10-15% dalam kurun waktu 1945-1946. Kesukaran dalam mencari jejak orang-orang hilang ini karena PMI praktis tidak dibekali catatan dan Palang Merah bentukan Belanda NERKAI menolak untuk bekerja sama.
TabelI
Orang Indonesia yang berhasil dikembalikan yang dibawa Jepang selama Perang Pasifik
Golongan
Jumlah
Romusha
24.987
Heiho
1.350
Pelaut
3.021
Sumber Majalah PMI Jakarta, 1953
Tabel II
Wanita yang dijadikan penghibur yang berhasil ditemukan PMI
Wilayah