Perangko, yang merupakan tanda pembayaran pengiriman surat biasanya bergambar para pahlawan nasional, tumbuhan langka, binatang hingga event- event penting. Namun, apakah pernah terbayangkan suatu saat potret diri kita dijadikan perangko resmi ? Itulah yang terjadi pada diri saya selaku Kompasianer beberapa hari yang lalu, berikut adalah catatannya.
Selasa (31/1) siang, Samsu Panitis ,Kepala Kantor PT Pos Indonesia (PI) DC Kota Salatiga, datang bertamu. Kebetulan saya belum bangun karena selama dua hari tidak tidur karena ada keperluan keluarga di Purworejo. Seperti biasa, hanya mengenakan kaos dan celana kolor, saya pun menemui beliau yang didampingi stafnya. Jangankan mandi, cuci muka saja tak sempat.
Ternyata, Samsu membawakan souvenir berupa kalender, buku diary dan 8 lembar perangko nominal Rp 3.000. Yang membuat surprise, perangko- perangko tersebut bergambar diri saya. “ Ini bukan perangko mainan pak, ini perangko resmi yang bisa digunakan untuk mengirim surat,” kata Samsu dengan mimik serius.
Wow ! Karena saya memang awam, otomatis saya agak terpana. Sebab, setahu saya, yang namanya perangko ya bergambar pahlawan, jaman dulu juga ada binatang atau tumbuhan langka. Sedang yang ini, gambarnya orang tak jelas, tetapi bisa untuk mengirim surat dan diakui keabsahannya. “ Lha wong ga jelas juntrungnya kok dicetak jadi perangko,” batin saya.
Ke 8 perangko tersebut, terdiri atas gambar saya saat berada di atas sepeda motor kuno merk Djawa buatan tahun 1940, foto wajah yang dulunya ada di facebook, foto mengenakan blangkon usai among tamu (menerima tamu) juga di facebook dan foto profil di Kompasiana.com. Semuanya dengan nilai Rp 3.000, sementara ikut dicetak gambar diri saat berkepala pelontos berlatar terali besi.
Samsu yang dikenal sangat responsif sekaligus seorang pimpinan yang gaul di kantornya, menjelaskan, apresiasi ini juga suatu bentuk ekspresi ketulusan pertemanan di antara kami. Terkait hal itu, saya pun sangat menghargainya. Persahabatan bukan diukur dari materi, kendati hanya berupa perangko, namun tak ternilai harganya di mata saya. Apa lagi, foto tertera di beberapa perangko resmi, bagi saya sangat membanggakan kendati cenderung berlebihan.
SouvenirPertama
Pertemanan saya dengan Samsu Panitis selaku pihak PT PI, sebenarnya belum begitu lama terjalin. Di mulai awal tahun 2016 lalu, saya menulis tentang keberadaan bis surat peninggalan pemerintahan kolonial Belanda yang ada di depan kantor PT PI DC Kota Salatiga.Selanjutnya, bulan September 2016 lalu, saya menulis artikel tentang lambannya pengiriman paket buku ke Cirebon, Jawa Barat.
Sehari setelah artikel terkait paket yang saya kirim melalui kantor PT PI muncul, Samsu Panitis bersama dua orang stafnya buru- buru menemui saya di rumah. Selain meminta maaf atas keterlambatan paket yang saya kirim, dirinya juga menyerahkan uang pengembalian pembayaran biaya paket sebesar Rp 133.825 (seratus tiga puluh tiga ribu delapan ratus dua puluh lima rupiah) dan souvenir.